Sunday, October 6, 2019

Menghadapi Resesi dan Krisis Untuk Investor Pemula

Menghadapi Resesi dan Krisis Untuk Investor Pemula

Bagaimana cara investor pemula menghadapi krisis dan resesi yang akhir akhir ini marak dibicarakan akan terjadi ? mulai muncul indikator yang dianggap sebagai pertanda krisis dan resesi seperti inverted yield curve dan kondisi global yang seakan mendukung terjadinya krisis dan resesi, mungkin yang paling menarik adalah perang dagang antara 2 raksasa ekonomi dunia, amerika serikat dan china yang makin hari makin memanas.

Beberapa bulan menuju perjalanan 5 tahun di pasar modal indonesia. Penulis agak gugup karena ini akan menjadi pengalaman pertama menghadapi krisis. Disisi lain, merasa senang karena akan bertemu dengan resesi dan krisis untuk pertama kali, menghadapi ujian sebenarnya sebagai investor saham. Belum sah rasanya menjadi investor saham sebelum mampu bertahan melewati krisis dan resesi.

Penulis tidak menemukan perbedaan definisi krisis dan resesi karena merujuk ke hal yang sama. Krisis / Resesi merupakan penurunan aktifitas ekonomi secara signifikan dan berlangsung lebih dari beberapa bulan. Jika pertumbuhan perekonomiannya negatif selama 2 kuartal berturut turut. Indikator yang umumnya digunakan adalah pertumbuhan GDP ( gross domestic product ) suatu negara.

INVERTED  YEILD CURVE
America di ambang resesi, pernyataan ini muncul berdasarkan dari Inverted Yield Curve atau return obligasi jangka pendek ( 3 bulan) lebih besar dari imbal hasil ( return) jangka panjang  10 tahun/ bulan. Fenomena ini terjadi jumat 22 maret 2019. Pada kondisi normal Obligasi jangka panjang selalu memberikan return lebih tinggi dibangding obligasi jangka pendek. Ini seperti bunga deposito 3 bulan lebih besar daripada bunga deposito 10 tahun. Bukankah ini sesuatu yang aneh? Return obligasi amerika dengan tenor 3 bulan ada di angka 2,4527 berbanding 2,4373 untuk obligasi dengan tenor 10 tahun.

Ini terjadi terakhir pada tahun 2006-2007dan 2000-2001. 9 dari 10 krisis amerika serikat didahului fenomena ini. Namun perlu digarisbawahi bahwa rata-rata krisis terjadi 311 hari setelah fenomena ini. Berdasarkan data tersebut, resesi kemungkinan besar terjadi di awal tahun 2020. 

PERANG DAGANG AMERIKA - CHINA
Perang tidak lagi seperti tahun tahun sebelumnya yang lebih mengutamakan kekuatan fisik, dewasa ini perang lebih mengarah pada perang kebijakan, kebijakan di bidang ekonomi adalah salah satunya. Seperti yang masih hangat dibicarakan terkait perang dagang antara amerika serikat dan cina. Perselisihan ini dimulai ketika presiden AS Donald Trump menandatangani keputusan penetapan bea masuk (import) produk asal china. Tak tanggung-tanggung , Trump  membidik tarif impor produk China bernilai 60 miliar dolar AS atau sekitar 824 T. Beberapa hari kemudian China membalas dengan melakukan hal serupa . Bahkan baru baru ini beredar kabar presiden donald Trump mempertimbangkan untuk mendelisted perusahaan-perusahaan china yang telah melantai di bursa saham amerika. Hal ini tentu akan menjadi babak baru dalam perang dagang kedua raksasa tersebut. Dan menarik untuk ditunggu apakah amerika serikat benar benar akan merealisasikannya atau tidak.

Dampak Perang dagang dan bila amerika Serikat benar benar mengalami Resesi  terhadap indonesia, investor akan lebih memilih save heaven ( aset aman  seperti emas ) dibandingkan berinvestasi di negara seperti indonesia. Perlu dipahami Amerika serikat adalah salah mitra utama kerja sama ekspor indonesia, tentu ini akan mempengaruhi surplus neraca perdagangan indonesia. 

PELUANG DALAM KRISIS DAN RESESI
Berkaca pada krisis dan resesi yang terjadi pada tahun 1998 dan 2008 terlihat selalu diikuti dengan koreksi IHSG yang signifikan. Pada tahun 1997 IHSG sempat menyentuh harga 736 sebelum akhirnya terkoreksi hingga 64% ke harga 263 saat krisis dan resesi terjadi. Di tahun 2007 kondisinya tidak jauh berbeda, IHSG sempat menyentuh 2830 sebelum akhirnya merosot ke 1241 atau 59% saat krisis dan resesi datang.  

Namun ada hal menarik dibalik setiap terjadi krisis, data yang sama menunjukkan setahun pasca krisis dan resesi, IHSG selalu membukukan kinerja yang luar bisa. Di tahun 1999 misalnya, IHSG naik 155% dari titik terendahnya di tahun 1998. Bahkan setahun setelah krisis 2008 IHSG naik 3725 atau setara dengan kenaikan 225%. Bukankah itu sangat menyenangkan? Lalu mengapa banyak investor justru ketakutan menghadapi krisis ketika krisis bisa memberi return yang luar biasa.

Ini bisa menjadi peluang untuk menghasilkan return yang memuaskan, bila kita membeli saham pada saat krisis dan resesi benar benar terjadi. Permasalahannya adalah pertama ketika terjadi krisis investor sudah nyangkut duluan dan tidak memiliki cash di tangan. Kedua Kalaupun memiliki cash investor terlalu takut untuk masuk dikondisi pasar yang sedang tertekan.

Kenapa tidak jual saja semua saham yang ada di portofolio dari sekarang? Sehingga kita memiliki cukup cash untuk membeli saham disaat krisis nanti? Meski banyak media telah menyampaikan ciri-ciri krisis akan muncul, tetapi Masalahnya tidak ada yang tau kapan tepatnya krisis / resesi benar benar terjadi.

Ketika menjual saham semua saham dalam portofolio dari sekarang, maka bila krisis ternyata tidak terjadi dan IHSG justru naik ke harga 7000, tentu kita sudah melewatkan kenaikan sebesar 15%. Kalaupun krisis memang benar benar terjadi, tetapi bukan tahun ini ataupun tahun depan tapi justru pada tahun 2021 atau setelahnya. Tentu memegang 100% cash menjadi pilihan yang kurang efektif .

LANGKAH PENULIS MENGHADAPI KRISIS
Sebagai investor pemula yang belum berpengalaman, pertama sebaiknya memilih langkah yang sederhana untuk menghadapinya. Kedua cenderung memilih langkah yang konservatif untuk meminimalisir resiko.

Berdasarkan data data diatas, Penulis menghadapi krisis dan resesi dengan meningkatkan stardar saham yang yang akan dibeli. Contohnya Bila sebelumnya membeli saham ketika harganya diskon 30%, dikondisi saat ini hanya membeli perusahaan dengan diskon 45% dari nilai intrinsiknya. Standar ROE sebelumnya 14% ditingkatkan menjadi 21%. Begitu juga dengan aspek fundamental yang lain seperti  hutang perusahaan dan yang lainnya.

Bila anda perhatikan semua aspek fundamental diatas ditingkatkan standarnya 50%, ini bukan tanpa alasan. Angka ini dipilih berdasarkan koreksi besar yang terjadi di tahun 1998 dan 2008 yang ada di angka 64% dan 59%. Maka meningkatkan standar pemilihan saham 50% sudah cukup untuk mengakomodir seandainya koreksi besar terjadi.

Meningkatkan standar pemilihan saham bisa membuat penggunaan cash dalam pembelian saham lebih efektif.  Andaikata Krisis dan resesi tidak terjadi dan IHSG justru terbang tinggi, strategi ini tetap bisa memberikan return yang memuaskan karena kita telah membeli perusahaanberkualitas di harga yang benar benar diskon.

Meningkatkan standar seperti diatas membuat kita lebih selektif dalam memilih saham, hanya membeli perusahaan berkualitas di harga yang benar benar diskon dan jumlah cash yang dimiliki tetap terjaga dengan baik. Saat ini posisi cash penulis adalah 10% dari portofolio. Belum lagi penulis selalu mengusahakan untuk Top Up dana sekitar 5% dari portofolio setiap bulannya. Sehingga sembari menunngu terjadinya krisis dan resesi, diwaktu bersamaan jumlah cash penulis akan terus bertambah.

Mari kita nantikan bersama apakah strategi sederhana ini bisa membawa penulis untuk melewati krisis dan resesi dengan baik. Bila anda memiliki strategi lain, jangan ragu untuk berbagi di kolom komentar ya.

No comments:

Post a Comment