Sunday, July 19, 2020

Analisis Fundamental Top Down Apporoach

Analisis Fundamental Top Down Apporoach

 

Top Down Approach

Dalam analisis fundamental saham ada 2 pendekatan yang umum digunakan. Yang pertama adalah analisis top down dan analisis Bottom up. Nah untuk hari ini kita akan khususkan untuk membahas pendekatan yang pertama. Analisis Top Down Saham dimulai dengan mempelajari kondisi ekonomi secara makro, kondisi sektoral industri dan terakhir kondisi perusahaan secara mikro. Untuk memulai menganalisis dengan pendekatan Top Down ada beberapa tahapan yang harus dilakukan :
  1. Analisis Makro Ekonomi, perlu mempertimbangkan apakah ekonomi masih bisa bertumbuh dan apakah inflasi terjaga di persentase yang aman.
  2. Analisis Sektoral, sektor industri mana saja yang paling diuntungkan oleh kondisi makro ekonomi.
  3. Analisis Mikro perusahaan, seperti kondisi fundamental perusahaan secara keseluruhan. Namun intinya adalah kemampuan perusahaan memperoleh keuntungan, kesehatan keuangan dan  yang terpenting adalah apakah harga sahamnya murah atau mahal.

Analis Makro Ekonomi


Gross Domestic Product (GDP) atau dalam bahasa indonesia dikenal produk domestik  Bruto (PDB) adalah indikator yang mengukur kekuatan ekonomi suatu negara. GDP menggambarkan nilai total dari segala sesuatu yang dihasilkan oleh semua orang atau perusahaan di indonesia. Tidak mempertimbangkan apakah mereka warga negara indonesia ataupun perusahaan milik asing. Ketika para ekonom membicarakan pertumbuhan ekonomi suatu negara, maka mereka menggunakan GDP sebagai acuan.

Inflasi adalah istilah yang menyangkut semua lapisan masyarakat. Mulai dari ibu rumah tangga hingga kontaktor. Badan pusat statistik rutin menghitung harga berbagai macam kebutuhan yang sering kita beli. Mulai dari kebutuhan rumah tangga, transportasi hingga biaya sekolah. Bila dalam waktu tertentu harga terus naik, maka BPS menghitungnya sebagai inflasi sebaliknya bila harganya turun maka disebut deflasi.

BI Rate,
  adalah kebijakan nilai suku bunga acuan yang ditetapkan oleh bank indonesia. untuk menahan inflasi, bank indonesia akan menaikkan suku bunga. Bila suku bunga dinaikkan, akan menarik lebih banyak minat masyarakat untuk menabung, namun  kenaikan ini juga diikuti oleh kenaikan suku bunga kredit, sehingga akan menjadi beban tambahan bagi perusahaan terutama yang menggunakan pinjaman dari bank untuk biaya operasi dan ekspansi perusahaan. properti dan kontruksi menjadi sektor yang sangat dipengaruhi oleh suku bunga acuan.

Kondisi Sosial Politik
juga tidak boleh diabaikan dalam investasi saham, belajar dari koreksi  pasar di tahun 1998 juga dipengaruhi kondisi kondisi politik saat itu. dan yang terbaru terkait pandemi covid-19 pada kuartal 1 tahun 2020 yang menyebabkan IHSG langsung terkoreksi hingga 35%.


Analisis Sektoral

Analisis yang digunakan untuk mengetahui sektor dan industri apa saja yang diuntungkan oleh kondisi makro ekonomi. Di Bursa Efek Indonesia ada 9 sektor Utama yang bisa kita pelajari lebih dalam.
  • Agriculture melingkupi perusahaan di bidang tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan, dan jasa-jasa yang berkaitan. Saham di sektor ini mayoritas bergerak di sektor perkebunan seperti Astra Agro Lestari (AALI) dan PP London Sumatra Indonesia (LSIP).
  • Mining meliputi perusahaan di bidang pertambangan dan penggalian, seperti pertambangan batu bara, minyak dan gas bumi, biji logam, penggalian batu-batuan, tanah liat, pasir, penambangan dan penggalian garam, pertambangan mineral, bahan kimia, dan bahan pupuk, serta penambangan gips, aspal dan gamping. Saham disektor ini di si dominasi oleh perusahaan yangbergerak di batu bara seperti Bukit Asam (PTBA), Indo Tambang Raya Megah (ITMG) dan Samindo Resources (MYOH).
  • Basic industry & chemicals meliputi perusahaan yang bergerak bidang pengubahan material dasar menjadi barang setengah jadi, atau barang jadi yang masih akan diproses di sektor perekonomian selanjutnya. Industri kimia mencakup usaha pengolahan bahan-bahan terkait kimia dasar yang akan digunakan pada proses produksi selanjutnya dan industri farmasi. Contoh perusahaan di sektor ini adalah Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) dan Indah Kiat Pulp and Paper(INKP)
  • Miscellaneous industry meliputi perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan mesin-mesin berat maupun ringan termasuk komponen penunjangnya. Astra Otoparts (AUTO) dan Sri Rejeki Isman (SRIL) adalah contoh perusahaan yang ada pada sektor ini.
  • Consumer goods industry perusahaan yang bergera di bidang pengolahan bahan dasar/setengah jadi menjadi barang jadi yang umumnya dapat dikonsumsi pribadi/rumah tangga. Mulai dari makan ringan, rokok, kosmetik hingga farmasi. Contoh dari perusahaan di sektor ini tentu saja Indofood Sukses Makmur (INDF), Hanjaya Mandala Sampoerna (HMSP) dan Kimia Farma (KAEF)
  • Property, real estate, and building construction: perusahaan yang bergerak di bidang usaha pembuatan, perbaikan, pembongkaran rumah dan berbagai jenis gedung (kontruksi). Bidang usaha pembelian, penjualan, persewaan, dan pengoperasian berbagai macam bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal (Real estate). Contoh saham yangberada di sekto ini adalah Pakuwon Jati (PWON) dan Adhi Karya (ADHI)
  • Infrastructure, utility, and transportation, perusahaan yang bidang usahanya meliputi penyediaan energi, sarana transportasi dan telekomunikasi, serta bangunan infrasruktur dan jasa-jasa penunjangnya. Bangunan infrastruktur meliputi bangunan non gedung dan rumah. Telkom Indonesia (TLKM), Perusahaan Gas Negara (PGAS) dan Garuda Indonesia (GIAA) merupakan perusahaan yang masuk sektor ini.
  • Finance Perusahaan yang bidang usahanyaberkaitan dengan sektor keuangan, meliputi perantara keuangan, lembaga pembiayaan, asuransi, perusahaan efek, dan perusahaan investasi. Saham di sektor ini di dominasi oleh saham saham Bank Mulai dari Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), Bank Mandiri (BMRI) hingga Bank BNI (BBNI).
  • Trade, service, and investment, meliputi perusahaan di bidang perdagangan partai besar dan kecil/eceran, serta usaha terkait sektor jasa seperti hotel, restoran, komputer dan perangkatnya, periklanan dan media serta industri percetakan. Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) dan Ace Hardware (ASES) merupakan dua perusahaan yang bisa dimasukkan pada sektor ini.

Analisis Mikro Perusahaan

Setelah mengetahui sektor mana yang paling diuntungkan oleh kondisi ekonomi, kita lanjutkan untuk menganalisis saham saham di sektor tersebut. Kita mulai dengan memfilter perusahaan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Kita bisa menggunakan rasio Return On Equity (ROE) untuk melihat seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Tentunya semakin besar ROE semakin bagus. Namun hal lain yang juga harus diperhatikan adlah konsitensi. Percuma ROE tahun ini 20% ternyata ROE tahun sebelumnya malah -50%. Maka penulis biasanya hanya akan memilih perusahaan dengan ROE konsisten diatas 10% selama 5 hingga 10 tahun terakhir.

Rasio kedua yang perlu dipertimbangkan adalah kondisi kesehatan keuangan perusahaan. Jangan sampai hutang perusahaan jauh lebih besar dari modal perusahaan. Rasio  paling sederhana untuk mengetahui kondisi kesehatan keuangan perusahaan adalah  Debt Equity Ratio (DER). Penulis hanya membeli perusahaan yang memiliki DER maksimal 80% atau o,8x. Tentunya semakin kecil akangkanya semakin baik.

Dan Rasio terakhir yang menjadi penentu keputusan investasi adalah apakah harga sahamnya mahal atau sedang diskon. Suatu saham dikatakan mahal bila harga sahamnya dipasar berada diatas nilai wajar (intrinsik ) perusahaan. Sebaliknya perusahaan dikatakan murah (diskon) ketika harganya dipasar berada dibawah nilai wajar (intrinsiknya). Berikut adalah paling sederhana yang penulis gunakan untuk mengetahui nilai intrinsik perusahaan.

menggunakan book value perusahaan sebagai nilai wajar (nilai intrinsik ) perusahaan.  Sehingga kita bisamenggunakan rasio Price to Book Value Ratio (PBV) sebagai acuan menentukan tingkat diskon perusahaan. Menurut penulis saham murah adalah perusahaan yang pbvnya ada di angka 0,8x.

Mari Kita coba untuk melakukan analisis Fundamental Saham sederhana dengan pendekatan TOP DOWN. Kita mulai dengan menganalisis kondisi ekonomi makro. Saat ini Indonesia sedang menghadapi kondisi Sosial Politik yang tidak biasa akibat pandemi covid-19. Keputusan untuk menerapkan PSBB mengakibatkan pertumbuhan ekonomi indonesia (GDP) di kuartal 1 tahun 2020 hanya tumbuh sebesar 2,97 (year on year) dengan tingkat inflasi 1,96% pada bulan juni 2020. Dan Bank Indonesia telah menetapkan suku bunga acuan sebesar 4%.

pandemi covid-19 dan Penerapan PSBB memang memberi sentimen negatif pada sektor Infrastructure, utility, and transportation, Khususnya pada sub sektor transfortasi. Kondisi ini tidak akan terlalu mempengaruhi sektor consumer good, bahkan sub sektor farmasi bisa menjadi sangat diuntungkan begitu juga dengan suku bunga acuan yang rendah bisa menjadi angin segar bagi sektor industri.

Maka kita analisis saham saham di sektor ini misalnya :

1. ICBP
2. HMSP
3. KAEF
4. MYOR
5. JRPT
6. KBLF

Dan kita lanjutkan dengan filter rasio fundamental mlai dari ROE, yang memiliki laba konsisten 10% selama 5 tahun terakhir. Maka akan tersisa 4 perusahaan yang memenuhi standar  ICBP, HMSP, MYOR dan JRPT.

Tahapan selanjutnya adalah standar kesehatan keuagan perusahaan,  dimana Debt to Equity rationya maksimal 80% atau hutangnya maksimal 80% dari ekuitas. Maka perusahaan yang kondisi keuangannya tergolong baik adalah ICBP,  HMSP dan JRPT

Terakhir setelah menggunakan PBV,untuk menentukan apakah harga sahamnya mahal atau murah. Kita mulai dari ICBP saat ini PBV nya ada di angka 3,96x yang artinya terlalu mahal. Berikutnya saham HMSP PBV bahkan ada di angka 5,48x dan yang terakhir JRPT PBVnya berada di angka 0,80 sehingga dari ketiga saham ini JRPT adalah saham yang memenuhi standar investasi yang telah kita tentukan.

Tidak usah kawatir bila tidak ada saham yang memenuhi standar, ada 2 hal yang dapat kita lakukan. Pertama sabar menunggu hingga saham sahamnya terkoreksi hingga menyentuh harga yang kita ingin kan. Yang kedua coba pada lebih banyak saham, contoh diatas kita hanya sebagian dari seluruh saham di sektor cunsumer  dan property jadi silakan dianalisis satu per satu.

Kurang lebih begitulah pemahaman penulis tentang analisis fundamental saham dengan pendekatan top down. Semoga bisa dipahami dan apabila ada poin yang kurang jelas jangan ragu untuk bertanya di kolom komentar.

No comments:

Post a Comment