Saturday, February 22, 2020

Kinerja Investasi 2019

Memasuki Kuartal awal tahun 2020 ini, laporan keuangan emiten mana saja yang sudah teman teman baca? Dalam investasi saham, laporan keuangan emiten menjadi salah satu sumber informasi yang sangat penting, baik bagi manajemen maupun investor.  Namun berapa orang dari teman – teman yang sudah menyusun laporan keuangan ( kinerja investasi ) selama  setahun terakhir ?

Laporan kinerja investasi memudahkan kita untuk mengevaluasi kegiatan investasi yang kita lakukan. Untuk mengukur apakah strategi investasi yang dilakukan sudah tepat atau belum. Menyempurnakan kekurangan strategi investasi yang sebelumnya atau minimal untuk menghindari kesalahan yang sama terulang di tahun berikutnya.

Berikut adalah kinerja investasi penulis selama tahun 2019


Kinerja Investasi 2019

Meski kinerja tahun 2019 tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya, penulis tetap puas dengan membukukan return 16%, mengingat di tahun yang sama Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) hanya tumbuh 1.7%. di tahun 2019  ada beberapa isu dan peristiwa yang mengguncang bursa saham baik di dalam dan di luar negeri. Mulai dari pegang dagang AS – China, Isu Krisis hingga tensi tinggi pemilu di indonesia. Hal- hal diatas yang mendorong penulis memutuskan untuk menggunakan strategi investasi yang lebih konservatif. Lebih menekankan pada value investing dibandingkan growth investing.

Screening saham diperketat menjadi
  1. perusahaan memiliki kinerja baik tercermin dari ROE yang selalu ada diatas 10% minimal 5 tahun terakhir.
  2. mengantisipasi Krisis yang begitu menggema di tahun 2019, maka hanya perusahaan – perusahaan dengan hutang yang minim yang lolos screening. Berdasarkan indikator DER (Debt to Equity) maksimal 0.8x . bila anda menggunakan RTI untuk analisis, maka angka 0.8x = 80%.
  3. Untuk menghitung valuasi saham menggunakan metode, bila ROE 10 % ( stabil  minimal 5 tahun ) maka PBV idealnya 1. Bila ROE 15% ( stabil minimal 5 tahun ) maka PBV idealnya 1.5. bila ROE 20 % ( stabil minimal 5 tahun ) maka PBV idealnya 2. Begitu seterusnya. Sederhana bukan?
  4. kondisi pasar saham yang fluktuatif di tahun 2019, memberi penulis kesempatan untuk mengumpulkan saham-saham yang memiliki deviden yeild tinggi. Tentunya tidak semua emiten yang memberi deviden yeild tinggi dimasukkan ke fortofolio. Hanya saham yang memenuhi 3 kriteria di atas dan memiliki deviden yield diatas 5 % yang dipertimbangkan untuk masuk fortofolio. Memiliki saham dengan deviden yield
Kurang lebih itulah strategi investasi yang penulis terapkan di tahun 2019. Meski mengunakan strategi yang cenderung tidak agresif seperti tahun-tahun sebelumnya, masih bisa membukukan pertumbuan 16% sepertinya cukup memuaskan.
Kesalahan di tahun 2019 lebih kepada metode valuasi sepertinya belum bisa dikatakan tepat, karena dengan metode ini di beberapa saham kita masuk di harga yang sebenarnya agak tinggi. Semoga di tahun 2020 kesalahan ini bisa disempurnakan sehingga return yang di dapat menjadi lebih maksimal.

Semoga dengan membaca artikel ini, teman - teman investor terinpirasi untuk membuat laporan kinerja investasinya masing masing,

2 comments:

  1. cara menghitung NAB dan jumlah unit gimana pak?

    ReplyDelete
  2. 1. Hitung Nilai total Portofolio saat ini
    2. Untuk memudahkan, Pertama kali masukkan aja NAB = Rp. 1000 kak
    3. Jumlah Unit adalah Nilai Portofolio / NAB kak

    hanya dengan 3 langkah diatas kak. apakah ada yang masih membingungkan?

    ReplyDelete