Wednesday, June 10, 2020

Belajar dari Anuual Letter Warren Buffet 1957


Belajar dari Anuual Letter Warren Buffet 1957

Bermodalkan US$ 105,100 yang diperoleh dari keluarga dan teman dekatnya. Pada tahun 1956, diusianya yang baru 25 tahun, Warren Buffet muda mendirikan parthnership untuk pertama kalinya. Sejak saat itu, setiap tahunnya dia selalu menyempatkan diri untuk menulis annual letter untuk partner (investornya). Annual Letter ini tentu menggambarkan filosofi dan pandangnya tentang bursa saham amerika ketika itu. Disini penulis mencoba mengambil poin-poin penting yang mungkin bisa bermanfaat bagi kita yang sedang berinvestasi sahamdi indonesia.

Telah 63 tahun berlalu, saat annual letter ini di terbitkan. Mungkin anda berpikir tulisan ini sudah tidak relevan dengan kondisi bursa saat ini. Namun taukah anda, bahwa bursa amerika didirikan tahun 1842 atau berusia 115 tahun saat itu. Bursa indonesia didirikan tahun 1912 atau 107 tahun yang lalu Jadi menurut pandangan penulis, kondisi bursa kita saat ini, masih bisa disamakan dengan kondisi  bursa amerika tahun 1957.

Berikut adalah poin poin penting yang penulis dapatkan dari pandangan dan filosofi Warren Buffet di tahun 1958.

Saham dikatakan mahal ketika harganya diatas nilai intrinsik perusahaan, begitu juga saham yang murah adalah yang harganya berada di bawah nilai intrinsiknya. Meski kita telah membeli saham di harga murah (diskon), bukan berarti harga sahamnya tidak bisa turun lagi. Ketika koreksi pasar terjadi, tidak hanya harga saham mahal yang turun, bahkan saham yang sudah murahpun bisa turun lebih dalam.

Disini juga harus diluruskan, bahwa saham yang harganya sudah turun banyak, tidak serta merta harga sahamnya bisa dikatakan diskon atau (undervalue).

Buffet membedakan Saham dalam Fortofolionya menjadi 2 kategori, saham kategori Work Outs dan saham Kategori Umum. Saham  kategori Works Out adalah saham yang kenaikan atau penurunan, baik value maupun harga sahamnya cenderung dipengaruhi oleh aksi korporasi yang dilakukan perusahaan dibandingkan dengan fluktuasi pasar.

Pandangan penulis, saham kategori ini adalah saham-saham yang akan melakukan akuisisi, marger atau menjual salah satu lini usahanya. Mungkin masih segar diingatan kita saham MPMX yang seketika harganya naik signifikan karena menjual anak usahanya, harga saham MPMX ada di harga 900an per lembar perlahan naik. Bahkan ketika MPMX  mengumumkan berencana membagikan hasil penjualan anak usahanya dalam bentuk deviden sebesar 480. seketika membuat harga sahamnya naik menjadi 1350 per lembar. Contoh lainnya adalah saham Bank Permata dengan kode saham BNLI, ketika belum terdengar rencana Astra Internasional untuk menjual BNLI, harga sahamnya 600an per lembar. Ketika Astra benar-benar menjual BNLI di tahun 2020, Harga saham BNLI naik gingga 1335 per lembarnya. Karena disebutkan tidak terpengaruh fluktuasi pasar, kemungkinan saham pada kategori ini adalah saham-saham yang kurang likuid.

Saham Kategori Umum, kategori ini berisi saham yang perusahaannya beroperasi seperti biasa dan tentunya dijual di harga murah (diskon). Komposisi kepemilikan saham buffet ketika itu adalah 30% kategori work out dan 70% kategori umum.

Jika di tahun berikutnya, ternyata terjadi koreksi besar-besaran, seharusnya saham-saham kategori work out tidak akan mengalami penurunan yg signifikan (karena kurang likuid). Tapi bila yang terjadi adalah sebaliknya, bursa saham justru menguat, saham di kategori umum yang akan memberi keuntunganlebih besar dari saham lainnya. Mungkin itu alasannya mengatakan tidak akan mencoba memprediksi arah market di tahun berikutnya, dan memilih lebih fokus untuk menemukan saham-saham diskon. Baik untuk kategori work out maupun umum. Karena ntah bursa saham naik atau pun turun, dia telah siap dengan kedua skenario tersebut.

Selama setahun terakhir, Warren Buffet mengatakan membeli 2 tahun dalam jumlah yang cukup besar 20% dari fortofolio dan 5% dari portofolio. Menurutnya kedua saham ini akan memberikan keuntungan yang substansial dalam 3 atau 5 tahun ke depan.

Berdasarkan pernyataan diatas, Warren Buffet mengatakan 5% adalah jumlah yang besar, maka kemungkinan fortofolionya berisi lebih dari 20 saham.  Namun itu bukan sesuatu yang yang aneh mengingat jumlah emiten di bursa amerika ada ribuan. Namun di Indonesia yang jumlah emiten  di bursanya yang hanya,  maka jumlah yang ideal adalah 10-20 saham. Penyataan diatas juga memberi gambaran bahwa time frame investasi Warren Buffet ketika itu adalah 3-5 tahun.

Mengevaluasi kinerja investasi, Warren Buffet menggunakan Indeks Dow Jones  sebagai perbandingan. Ia akan puas bila berhasil mencatatkan kinerja 10% diatas indeks. Indeks dow jones terdiri dari 30 perusahaan terbesar di amerika.

Mengevaluasi kinerja adalah proses dalam investasi yang biasanya diabaikan oleh investor pemula, padahal ini sangat penting. Bahkan Warren Buffet sudah mengevalusi kinerjanya sejak tahun pertama partnership didirikan. Ini membuktikan, betapa pentinya evaluasi kinerja dalam proses investasi saham. Investor saham di indonesia, bisa menggunakan indeks IHSG atau IDX30 sebagai perbandingan kinerja investasi.


No comments:

Post a Comment