Monday, December 21, 2020

Tidak ada saham DIskon, Ini Solusinya

Pada artikel sebelumnya tentang cara menghitung harga wajar, valuasi atau nilai intrinsik paling sederhana. Banyak rekan rekan investor yang menyampaikan kriteria tersebut terlalu ketat hingga sulit untuk menemukan saham yang lolos screening. Perlu dipahami saham saham berfundamental bagus dengan harga diskon tidak setiap hari tersedia di bursa saham, jadi kita perlu bersabar hingga kesempatan itu datang. 

Terlebih di masa seperti  saat ini, ketika IHSG sedang mengalami fase bullih, bahkan beberapa saham telah mengalami kenaikan lebih dari 100%, sehingga menemukan saham diskon tidak semudah sebelumnya.

IHSG saat artikel ini berada di angka 6118, atau telah naik lebih dari 50% dari bulan maret. Tidak heran banyak saham yang harganya naik signifikan pada periode yang sama. Di satu sisi sangat menyenangkan melihat fortofolio hijau dan profit, namun di sisi lain semakin sulit bagi kita untuk menemukan saham diskon. Apa yang harus kita lakukan bila tidak ada lagi saham diskon yang tersisa?

Sangat sederhana “Menunggu” tapi kebanyakan investor gagal melakukan hal sederhana ini. Termasuk penulis sendiri, sering kali tergoda membeli saham karena tidak tahan melihat uang cash nganggur dan akhirnya membeli saham tidak di harga yang diskon. Hasilnya sudah bisa di tebak, pertama mengalami kerugian. Kedua, kalaupun untung, returnya tidak memuaskan.

Nah kalaupun sabar menunggu, bukannya dana kita menjadi diam dan tidak bertumbuh ? Terlebih bila menunggunya dalam jangka waktu yang tidak singkat, misalnya 1, 3 atau 5 tahun. Hal ini tentu tidak menguntungkan bagi investor, bukannya bertumbuh, dananya malah tergerus oleh inflasi. 

Bagaimana cara mengatasinya?  Penulis sendiri sembari menunggu saham yang memenuhi kriteria, dana nganggur yang dimiliki diletakkan di reksadana pasar uang ataupun reksadana obligasi. Dengan return sekitar 5-9% pertahun sudah cukup untuk mengatasi nilai inflasi yang menggerus dana investasi yang kita miliki.Dengan demikian, penulis bisa meredam keinginan untuk selalu membeli saham, bahkan disaat yang kurang tepat atau terlalu mahal.

Akhir-akhir ini membeli reksadana jauh lebih mudah daripada sebelumnya. Semuanya Bisa dilakukan hanya dengan duduk dirumah melalui gadget di tangan anda. Setidaknya ada 2 aplikasi reksadana yang kami telah gunakan. 

1. Bibit

Tidak ada saham DIskon, Ini Solusinya

Bibit adalah salah satu aplikasi yang membantu kita untuk membeli reksadana secara online. Kami lebih senang menyebutnya sebagai supermarket reksadana, karena hanya dengan satu aplikasi ini kita bisa membeli berbagai macam reksadana. Tidak perlu khawatir, aplikasi ini sangat mudah untuk dipahami dan digunakan bahkan bagi orang awam sekalipun.  

2. Bareksa

Tidak ada saham DIskon, Ini Solusinya

Bareksa juga merupakan aplikasi yang menjadi portal investasi reksadana secara  online. Hanya saja tampilannya tidak semenarik dan simpel seperti bibit. Dibalik kekurangannya itu, bareksa memiliki produk reksadana yang lebih bervariasi bagi investor.
Keduanya bisa di download google store dan pendaftarannya 100% online, tidak perlu repot repot datang ke kantornya, skrang semua bisa diselesaikan hanya dengan gadget di tangan. 

Secara umum ada 3 jenis reksadana,
1. Reksadana Pasar Uang, mayoritas dana kita akan disimpan dalam deposito
2. Reksadana Obligasi, mayoritas dana kita disimpan dalam bentuk obligasi atau surat hutang
3. Reksadana Saham, mayoritas dana kita akan digunakan untuk membeli saham 

Nah kenapa penulis hanya membeli reksadana pasar uang dan reksadana obligasi saja? sebagai investor saham, tentu penulis lebih suka membeli saham sendiri dibandingkan mempercayakannya pada orang lain. Pertama, tentu sebagai pembelajaran dan menambah pengalaman, kedua, yakin pada kemampuan kami dalam berinvestasi dan ketiga yang paling penting adalah tidak kena fee pengelolaan dana.
 


No comments:

Post a Comment