Saturday, June 27, 2020

Analisis Fundamental Saham BRIS

Analisis Fundamental Saham BRIS

Sejarah pendirian PT Bank BRIsyariah tbk (BRIS) tidak lepas dari akuisisi yang dilakukan terhadap bank jasa arta pada 19 desember 2007. setelah mendapatkan izin usaha dari bank indonesia, pada 16 oktober 2008 brisyariah resmi beroperasi pada 17 november 2008 dengan seluruh kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah islam.

Pada 19 Desember 2008, Unit Usaha Syariah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melebur ke dalam PT Bank BRIsyariah. BRIS fokus membidik berbagai segmen di masyarakat. Basis nasabah yang terbentuk secara luas di seluruh penjuru Indonesia menunjukkan bahwa BRIsyariah memiliki kapabilitas tinggi sebagai bank ritel modern terkemuka dengan ragam layanan finansial sesuai kebutuhan nasabah.

Berdasarkan laporan tahunannya yang terbaru, BRIS telah memiliki 57 kantor cabang, 215 Kantor Cabang Pembantu, 10 Kantor Kas, 12 Unit Micro Syariah dan 2209 Kantor Layanan Syariah yang didukung oelh 5932 orang Karyawan

melihat potensi besar pada segmen perbankan syariah, pada tahun 2018, BRIsyariah mengambil langkah strategis dengan melaksanakan initial Public Offering  di Bursa Efek Indonesia. sehingga 73% sahamnya dimiliki BBRI, 18,33% dimiliki masyarakat dan 8,67 DPLK Bank Rakyat Indonesia.

BRIsyariah membagi segmen pasar pembiayaan dalam empat segmen, yaitu Bisnis Komersial, Bisnis SME dan Kemitraan, Bisnis Konsumer, dan Bisnis Mikro

Bisnis Komersil BRIsyariah melayani korporasi besar dan institusi seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN), maupun Non-BUMN. Segmen bisnis ini juga memberikan pembiayaan sindikasi baik bersama dengan induknya (BBRI) maupun secara mandiri. segmen bisnis komersil melayani para nasabah perbankan komersil dengan pembiayaan dari Rp. 25 miliar ke atas. outstanding pembiayaan bisnis komersial BRIsyariah meningkat 17,02% menjadi Rp 9,84 triliun.

Bisnis SME dan Kemitraan melayani pembiayaan produktif kepada UKM dengan sasaran utama pelaku usaha kecil menengah yang memiliki potensi untuk berkembang dan memiliki kredibilitas yang baik. Untuk Kemitraan sendiri juga memberikan pembiayaan baik dengan skema executing maupun melalui channel agent seperti BPRS, BMT, dan Koperasi yang bekerjasama dengan BRIsyariah. Peningkatan layanan dan penerapan strategi yang tepat oleh brisyariah di bisnis SME & kemitraan telah mencatat hasil yang baik. kinerja bisnis SME & Kemitraan berada dalam tren pertumbuhan positif. Total Pembiayaan Ritel dan Kemitraan di tahun 2019 mencapai Rp5,10 triliun meningkat 37,47% dibanding di tahun 2018 sebesar Rp3,72 triliun.

Bisnis Konsumer difokuskan kepada pembiayaan yang memiliki risiko rendah (Asset based dan Salary based) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan nasabah melalui penawaran produk Kepemilikan rumah dan Kepemilikan Multi Faedah. Pembiayaan kepemilikan rumah yang dilayani termasuk yang terkategori pembiayaan subsidi program pemerintah maupun yang tidak bersubsidi. Sementara untuk kepemilikan Multi Faedah berfokus pada “salary based financing” yang diperuntukan bagi karyawan aktif dan pensiunan. Segmen bisnis konsumer berfokus pada pembiayaan-pembiayaan yang bersifat konsumtif. pada tahun 2019, pembiayaan konsumer terus memberikan konstribusi positif bagi pertumbuhan bisnis. Pembiayaan Konsumer di tahun 2019 mencapai Rp8,34 triliun meningkat 28,70% dibanding di tahun 2018 sebesar Rp6,48 triliun

Bisnis Mikro ditujukan untuk melayani nasabah individual dan pengusaha mikro, termasuk di dalamnya adalah penyaluran pembiayaan bersubsidi untuk mendukung program pemerintah dalam memberdayakan usaha masyarakat. Mikro BRIsyariah bertujuan memenuhi kebutuhan pembiayan mikro para nasabah. baik itu pembiayaan modal kerja maupun investasi dengan plafon sampai dengan Rp 200 juta. perseroan menyalurkan segmen pembiayaan mikro bagi sektor produktif yang dilakukan oleh individu/perseorangan dan atau badan usaha. sektor penyaluran pembiayaan dimaksud meliputi perdagangan, pertanian dan kehutanan. pembiayaan Bisnis Mikro mencapai Rp4,1 triliun di tahun 2019, atau tumbuh 26,09% (yoy) dibanding tahun 2018 yang masih sebesar Rp3,25 triliun

Pada tahun 2019, BRIsyariah mampu mencapai mayoritas target kinerja kunci yang dicanangkan dalam Rencana Bisnis Bank tahun 2019 (RBB 2019). Selain itu, BRIS juga dapat menjaga momentum pertumbuhan di atas rata-rata industri untuk beberapa indikator kinerja. Pertumbuhan aset BRIsyariah sebesar 13,87% (YoY) pada tahun 2019 menjadi Rp43,12 triliun dari Rp37,87 triliun di tahun 2018. Realisasi capaian aset tersebut terhadap target RBB tahun 2019 sebesar 100,32%.

Jumlah pembiayaan BRIsyariah meningkat menjadi Rp27,38 triliun, atau tumbuh 25,29% dibanding tahun 2018 yang sebesar Rp21,86 triliun. Peningkatan ini didukung oleh peningkatan di semua segmen operasi BRIsyariah baik pembiayaan di segmen Bisnis Komersial, Bisnis SME & Kemitraan, Bisnis Konsumer, maupun pembiayaan pada segmen Bisnis Mikro.  Pertumbuhan pembiayaan dini tidak lepas dari mulai terimpelentasinya Qanun Lembaga Keuangan Syariah di Provinsi Wilayah Aceh, melalui konversi aset produktif (Kredit) Bank BRI selaku induk. 

Pencapaian pembiayaan BRIsyariah tersebut setara dengan 99,59% dari pencapaian target pertumbuhan yang ditetapkan dalam RBB 2019. Sedangkan dibandingkan industri, pertumbuhan pembiayaan BRIsyariah tahun 2019 berada di atas rata-rata pertumbuhan pembiayaan perbankan nasional maupun perbankan syariah.

Sementara dana pihak ketiga (DPK) BRIsyariah tercatat sebesar Rp34,12 triliun pada tahun 2019, atau meningkat sebesar 18,23% dari tahun 2018 yang sebesar Rp28,86 triliun. Pencapaian DPK terhadap target RBB 2019 tersebut sebesar 111,70%. Dana murah atau current Account Savings Account (CASA) memiliki kontribusi tertinggi dalam peningkatan DPK, yaitu sebesar 53,43%, sedangkan deposito tumbuh sebesar 0,04%. Dengan tingkat pertumbuhan CASA tersebut, komposisi dana murah pun mengalami peningkatan di tahun 2019 menjadi 44,21% yang sebelumnya pada tahun 2018 sebesar 34,07%

Seperti halnya pada pertumbuhan pembiayaan, pertumbuhan DPK BRIsyariah tidak terlepas dari kontribusi terimpelentasinya Qanun LKS di Provinsi Wilayah Aceh, melalui konversi liabilitas (giro, tabungan, dan deposito) BRI sebagai induk. Laba operasional BRIsyariah sebelum pencadangan tercatat sebesar Rp972,18 miliar di tahun 2019, atau tumbuh 25,16% ( YoY) dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp776,77 miliar di tahun 2018.

Dari sisi rasio keuangan penting di tahun 2019, CAR BRIsyariah berada di 25,26%. Sedangkan NPF Nett sebesar 3,38%, membaik dari tahun sebelumnya sebesar 4,97%. Sementara financing to Deposit ratio (FDR) mencapai 80,12%, atau masih berada di level terjaga untuk likuiditas BRIsyariah.

Berikut adalah tabel indikator Kinerja Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah hingga 19 November 2019.

 Indikator2017
2018
2019
Car (%)
17,91
20,39
20,48
NPF (%)
3,87
2,85
3,18
NOM
1,27
1,74
1,97
BOPO
89,62
85,49
83,14
ROA1,17
1,59
1,79
FDR85,31
86,11
85,43

Terakhir terkait valuasi, saat ini saham BRIS diperdagangkan di harga Rp 308 per lembar, atau setara dengan Price to Book Value 0,58x. Bila di lihat dari segi, PBV tentu BRIS terlihat sedang diskon. Namun menurut teman teman apakah prospek dan kondisi keuangannya bagus?


No comments:

Post a Comment