Friday, March 19, 2021

Menghitung Nilai Intrinsik dengan Equity Bond Valuation

Nilai Intrinsik Saham

Bagaimana cara menghitung nilai intrinsik saham atau perusahaan? Mari kita belajar equity bond valuation untuk mengetahui suatu perusahaan bisa menjadi investasi yang menguntungkan atau tidak?  Sebelum membeli saham di harga Rp 500 per lembar, maka setidaknya kamu bisa menjawab 2 pertanyaan ini.

1. Apa ekspektasimu ketika membeli saham ini?

2. Mengapa kamu mau membelinya di harga Rp 500 per lembar?

Bila tidak mampu menjawab 2 pertanyaan diatas,jangan salahkan siapanpun jika hasil investasimu mengecewakan. Bila memutuskan membeli suatu saham di harga Rp 500 karena rekomendasi teman, jika harga sahamnya turun hingga Rp 300 per lembar, apakah kamu bisa menjual saham itu kepada dia dengan harga Rp 500?

Atau karena mendengar rekomendasi influencer, apabila harganya turun, apakah influencer itu mau membeli sahammu di harga semula? Selanjutnya apakah bisa memastikan dia melakukan hal yang sama dengan yang direkomendasikan?  Jangan jangan dia justru melakukan hal yang sebaliknya.

Jawaban yang paling umum, mengapa kamu membeli saham ini di harga Rp 500 per lembar? Sepertinya harga saham ini akan naik ke Rp 700. Tentunya peluang ini juga meragukan karena kamu berharap ada orang yang mau membeli saham yang sama diharga yang lebih mahal

Warren Buffet memiliki konsep berpikir tersendiri untuk menilai apakah suatu saham layak atau menarik untuk dibeli. Karangka berfikir ini disebut equity bond valuation. mari kita pelajari konsep dasarnya.

Kamu memiliki uang sebesar Rp. 10.000.000, ada 3 pilihan yang bisa dilakukan. Menginvestasikannya pada deposito, obligasi atau saham. 

Deposito

Saat ini rata rata bunga deposito adalah 4% per tahun, bila uang tadi diinvestasikan disini, returnya adalah Rp 400.000 setahun. Dan tentu tidak rasional jika kamu berharap mendapatkan Rp. 1.000.000 dari sini. Pastikan untuk tidak memasang ekspektasi diatas batas rasional. 

Jika dana ini dibutuhkan dalam waktu dekat 1-3 tahun, sebaiknya simpan saja di deposito atau obligasi. Karena bila dibelikan saham, meski yang dibeli adalah saham bluechip yang memiliki kinerja bagus dan konsisten. Siapa yang menjamin bahwa tidak akan lagi terjadi koreksi besar seperti saat corona pertama kali masuk Indonesia. Tentu sangat merugikan bila ternyata kamu mebutuhkan dana disaat saat pasar sedang terjadi koreksi sehingga harus menjual saham sahammu di harga diskon.

Bila dana itu disimpan pada deposito, uang Rp 10.000.000 akan bertumbuh menjadi 10.400.000 setahun kemudian. Dan ini adalah pilihan yang paling minim risiko dibandingkan 2 pilihan lainnya.

Obligasi ( Surat Utang)

Intrumen lain yang bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan uang adalah surat utang negara atau surat hutang swasta yang umum disebut obligasi. Dengan dana yang sama  yaitu Rp. 10.000.000 kamu memutuskan untuk berinvestasi pada obligasi pemerintah dengan return rata-rata 7%, yang akan jatuh tempo 10 tahun. Maka return yang bisa didapatkan adalah Rp 700.000 per tahun. bila diakumulasikan menjadi Rp.7.000.000 selama 10 tahun. atau dengan berinvestasi 10.000.000, 10 tahun yang akan dating uangmu akan tumbeh menjadi Rp.17.000.000.

Namun perlu menjadi catatan, sepanjang 10 tahun itu, kamu bisa menjual obligasimu pada orang lain. Tentunya dengan harganya diatas 10 juta dan tidak menutup kemungkinan lebih murah dari 10 juta. Misalnya seperti saat ini, suku bunga yang ditetapkkan Bank Indonesia adalah 3,50%. Maka harga obligasi yang kamu pegang bisa saja naik menjadi Rp. 11.000.000 (hanya ilustrasi). Karena menawarkan return yang lebih baik dari deposito.

Namun apabila yang terjadi adalah sebaliknya, Bank Indonesia menaikkan Suku bunga menjadi 10%, maka orang akan berlomba lomba beralih ke deposito dan menjual obligasinya, yang mengakibatkan harga obligasimu turun menjadi Rp. 9.000.000.

Kalau begitu obligasi lebih berisiko dari deposito dong, karena harganya bisa turun? jawabannya adalah iya, bila kamu menjualnya sebelum jatuh tempo. Namun jika kamu menyimpannya hingga 10 tahun, maka saat  jatuh tempo kamu akan tetap menerima Rp. 10.000.000. jadi itu pilihanmu, apakah akan menjual sebelum jatuh tempo dengan risiko harganya naik ataupun turun, atau memilih bersabar menunggu hingga jatuh tempo.

Jadi ketika berinvestasi disini, jagalah ekspektasimu pada angka  7% per tahun, tidak lebih. Karena meski harga obligasi bisa naik dan turun. bunga yang kamu terima tetap sama yaitu Rp 700.000. Konsep obligasi inilah yang sering digunakan oleh Warren Buffet untuk menentukan apakah suatu saham menarik atau tidak. dia menganalogikan harga saham dengan jumlah uang yang harus diinvestasikan pada sebuah obligasi. Tentu ada sedikit perbedaan

1. Jika kita berinvestasi pada obligasi, makan kita akan mendapat imbal hasil berupa bunga. Nah sedangkan bila kita berinvestasi pada saham, imbal hasil yang kita dapatkan adalah laba perusahaan (disesuaikan dengan persentase kepemilikan)

2. Obligasi umumnya akan memberikan kupon bunga yang tetap selama. Jadi dalam 10 tahun kupon bunganya tetap 7% per tahun. sedangkan laba perusahaan tentu tidak tetap. Bisa terus tumbuh atau turun bahkan hingga rugi.

3. Bila berinvestasi pada obligasi kita hanya mendapatkan kupon hingga batas waktu tertentu dalam kasus diatas adalah 10 tahun. namun dalam berinvestasi saham, selama perusahaan masih beroperasi kita tetap memiliki hak katas labanya.

Dari perbedaaan nomer 1 diatas, kita mengetahui obligasi memiki kupon atau bunga yang menunjukkan hak pemegang obligasi, dalam kepemilikan saham, investasi yang kita tanamkan tercermin dalam modal (ekuitas) di laporan keuangan dan kupon atau imbal hasil yang menjadi hak investor adalah laba perusahaan. 

Untuk memahami konsep ini, mari kita gunakan peritungan yang sederhana. Misalnya ada perusahaan ABCD ekuitasnya (modalnya) dalam laporan keuangan adalah 1 triliun, jumlah sahamnya 1 miliar lembar. Jadi nilai bukunya adalah Rp 1000 per lembar saham. Perusahaan ini menghasilkan laba bersih 200 miliar . nah bila laba ini kita bagi dengan setiap lembar saham, maka masing masih lembar saham akan menerima Rp 200  (EPS). dengan modal 1 triliun, perusahaan mampu menghasilkan laba 200 miliar, maka kita bisa mengatakan kupon atau imbal hasil saham ABCD adalah 20%. Untuk yang sudah berinvestasi saham, semestinya sudah paham bahwa 20% ini adalah Return On Equity (ROE) perusahaan ABCD.

ROE bisa memberi kita gambaran kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Misalnya Andi membuat kedai kopi dengan modal 100 juta, mampu menghasilkan laba 15 juta dalam setahun dengan modal yang sama budi membuka laundry, dan dalam 1 tahun usahanya mampu menghasilkan laba 30 juta. Bila keduanya menawarkan investasi, mana yang akan kamu pilih? Tentu saja laundry dong karena ROEnya 30 %, sedangkan kedai kopi hanya 15% per tahun.

Namun berbeda dengan deposito ataupun obligasi yang memberi kupon atau imbal hasil yang tetap, laba saham bisa sangat berfluktuasi. Sehingga inilah yang menjadi alasan mengapa Warren Buffet lebih menyukai perusahaan yang memiliki pertumbuhan yang konsisten dan track record yang Panjang.

Sehingga perlu menjadi catatan untukmu, bahwa cara ini hanya bisa digunakan pada perusahaan yang memiliki track record yang Panjang dan pertumbuhan yang konsiten setiap tahunnya. Atau ROE perusahaan selalu berada diatas 10% selama 10 tahun berturut turut.

Mari kita mulai dengan satu contoh.

Saham ABCD memiliki kenerja yang bagus dan konsisten. Tercatat Earning Per Share (EPS) perusahaan tahun 2010 hanya Rp 9,25 dan terus tumbuh hingga tahun 2020 EPSnya tercatat ada di angka Rp 103 per lembar saham. Dengan kata lain rata rata pertumbuhan EPS nya setiap tahun adalah 27%.

Dengan rata-rata pertumbuhan 27% setahun, kita proyeksikan EPS perusahan ABCD 10 tahun kedapan. Maka bila ia mampu mempertahankan pertumbuhan 27% per tahun, maka pada tahun 2030 EPS nya akan menyentuh Rp 1124.

10 tahun terakhir, PER (Price Earning Ratio) terendah dari perusahaan ABCD adalah 14x. sehingga proyeksi harganya di tahun 2030 adalah Rp 15.793, hasil dari (EPS x PER) atau Rp 1124 x 14. 

Apakah saham ABCD adalah investasi yang menarik? Saat ini saham ABCD di hargai 1600 per lembar. Dengan proyeksi akan menjadi Rp 15.793 dalam 10 tahun mendatang atau menawarkan pertumbuhan 25% per tahun. ( 6x lipat dari bunga deposito) maka saham ABCD ini menjadi menarik.

Cara ini tentu hanya efektif digunakan investor yang memiliki timeframe investasi yang Panjang. Menggunakannya untuk transaksi jangka pendek tidak akan memberi hasil yang memuaskan atau justru mengecewakan.






No comments:

Post a Comment